Tugas Akhir Mahasiswa Arsitektur ITB

Sidang akhir mahasiswa Tugas Akhir semester 2 tahun ajaran 2010/2011 dilaksanakan pada hari Jumat 13 Mei 2011. Hampir semua mahasiswa mempresentasikan tugas akhir dengan  gambar-gambar yang dibuat dengan CAD. Salah satu mahasiswa beda dengan yang lain, berani mempresentasikan gambar secara manual dengan tangan. Presentasi dengan tangan, terlihat hidup dan menarik. Gambar rancangan dan foto maket dapat dilihat di atas, klik untuk memperbesar gambar. Tugas akhir tersebut dibuat oleh  Wahyu Pratomo, yang dibimbing oleh  Dr.Ing. Widjaja Martokusumo. Kasus tugas akhir Museum Arkeologi Borobudur. Gagasan perancangan seperti di bawah ini.

Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa Museum Arkeologi Borobudur memiliki koleksi utama yaitu Candi Borobudur itu sendiri. Sehingga tantangannya adalah bagaimana bangunan baru mampu menunjukkan bahwa Candi-nya lah yang menjadi koleksi termegah. Museum ini berdiri bagaikan sebuah komplementer. Ada yang dilihat, ada yang melihat. Oleh karenanya, geometri dari massa bangunan menekankan pada bentuk-bentuk yang mewadahi fasilitas untuk memandang Candi.

Sementara itu, “manusia” adalah artefak  budaya yang paling hakiki, itu pula yang diakui UNESCO sebagai peninggalan kebudayaan Borobudur. Para pemahat asli Candi Borobudur ribuan tahun yang lalu memiliki keturunan yang masih hidup dan tetap eksis memahat batu hingga saat ini.

Ide awal yang ingin diterapkan dalam rancangan adalah membuat bangunan baru yang berdialog dengan Borobudur dan menjadi tempat berkembangnya pahatan-pahatan lokal Desa setempat. Sementara itu, isu bencana erupsi Merapi yang mengancam kawasan ini dijawab dengan adanya ruang penyelamatan dan pengungsian yang disebut “Gua Selo” dalam bahasa Jawa

Massa dibentuk dari respons lahan yang berada pada pertigaan dan harus mampu ‘menangkap’ pengunjung dari berbagai arah. Oleh karenanya, bentuk lingkaran adalah wujud yang paling tepat untuk menjawab itu.

Sementara itu, massa bangunan dibentuk dari dua buah massa utama yang terdiri dari massa ‘solid’ untuk fungsi museum dan massa ‘void’ untuk fungsi non-museum. Selanjutnya, perletakkan gabungan massa disejajarkan dengan Jalur Balaputradewa (Borobudur-Pawon-Mendut) sehingga keteraturan pada jalur ini diteruskan sampai ke Taman Wisata. Jalur ini juga berfungsi sebagai sebuah grid yang menjadi acuan untuk penambahan ruang museum (ekspansi), sehingga penambahan tersebut lebih teratur.

 

Berita Terkait