Heritage as Branding: Pengalaman Merancang Renovasi Toko De Vries Bandung

Kuliah Tamu David B. Soediono

Bandung, 2 Desember 2015

Permasalahan pelestarian bangunan cagar budaya adalah membangun keseimbangan yang beradab antara investasi yang berdimensi ekonomi dan konservasi yang berdimensi budaya. Dimensi ekonomi cenderung bersifat privat, abai, egosentrik, dan sentrifugal. Sedangkan dimensi budaya bersifat publik, hirau, filantropik, dan sentripetal. Atas dasar itulah, proyek restorasi bangunan toko de Vries di kota Bandung dilaksanakan, dan menjadi contoh bagaimana upaya pelestarian terhadap cagar budaya di kota Bandung. Prestasi ini kemudian menjadikan sang Arsitek, David B. Soediono, mendapat penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesai (IAI Awards) tahun 2015.

Toko de Vries adalah bangunan yang menyimpan banyak cerita. Bangunan ini dirancang oleh Ed Cuypers, arsitek yang juga dikenal sebagai tokoh Amsterdam School di Belanda. Di Indonesia, Cuypers adalah salah satu arsitek pertama yang mencoba memadukan arsitektur Eropa dengan budaya lokal, mendahului tokoh-tokoh lain seperti Henri Maclaine Pont, Thomas Karsten, atau C.P. Wolf Schoemaker. Toko de Vries adalah toko serba ada pertama di kota Bandung yang menjadi tujuan belanja satu-satunya bagi konsumen orang-orang Belanda termasuk para Preanger Planters (tuan-tuan Belanda kaya raya pemilik perkebunan dengan komoditas ekspor), yang menjadikan tempat ini sebagai ajang pertemuan dan sosialisasi. Toko ini juga selalu menjadi latar belakang peristiwa-peristiwa penting yang menyangkut Konferensi Asia Afrika di Bandung dan kegiatan-kegiatan yang memperingatinya.

Pelaksanaan proyek restorasi, seperti proyek pada umumnya, tidak seindah yang dibayangkan di awal. Meskipun mendapat dukungan dari pemilik, proyek restorasi ini ternyata bukan menjadi prioritas utama, dan tercermin dari terbatasnya anggaran yang disediakan. Kendala kedua adalah, karena prosedur perusahaan, maka kontraktor yang dapat mengerjakan pekerjaan ini adalah rekanan resmi perusahaan, dan semuanya adalah kontraktor pemeliharaan, dan kurang berpengalaman dalam proyek restorasi. Namun di lapangan, kontraktor menunjukkan keinginan belajar yang kuat dan memberikan karya yang terbaik. Kolaborasi antara kontraktor dan arsitek, dan didukung oleh pemberi tugas, menjadikan gagasan untuk memugar toko de Vries sebagai cagar budaya bisa terlaksana dengan baik.

Pemugaran toko de Vries, yang saat ini menjadi aset dari sebuah perusahaan perbankan multnasional, menunjukkan mulai munculnya apresiasi dari dunia usaha terhadap upaya pelestarian budaya. Meskipun perubahan ini masih berlangsung perlahan, tetapi evolusi ini mulai memperlihatkan jejak-jejak nyata. Beberapa perusahaan sudah menjadikan bangunan cagar budaya sebagai representasi kepedulian terhadap budaya dan berkontribusi dalam membangun citra sebagai perusahaan yang berkelas. Belajar dari pemugaran toko De Vries, ternyata upaya pelestarian mempunyai kompleksitas permasalahan di lapangannya sendiri. Sebuah karya baru terwujud dengan baik karena adanya kerja sama antar pelaku di lapangan. Terutama dari pemilik bangunan, yang mengambil risiko terhadap dana yang diinvestasikan untuk upaya pelestarian budaya. Seharusnya penghargaan bukan hanya diberikan kepada arsitek, tetapi juga kepada pemilik bangunan, agar apresiasi ini dapat mendorong para pemilik bangunan yang lain berinvestasi dalam pelestarian cagar budaya (ASE).

Materi Presentasi: David – Gedung de Vries 2 ITB u web

Foto u Web (3)


Foto u Web (2)Foto u Web (1)

Berita Terkait