Auditorium sebagai Representasi Penonton

15213027 | Shafira Anjani

 

Berada di jantung Belarus, Eropa Timur, ruangan dengan fungsi auditorium ini cukup meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Ruangan pada gambar di atas sesungguhnya baru saya datangi dua kali dalam waktu yang tidak berjauhan, tepatnya pada tahun 2015. Pada tahun 2015, saya berkesempatan untuk menjadi volunteer sebuah proyek sosial yang diadakan “AIESEC in Belarus”, sebuah organisasi non profit yang dijalankan oleh mahasiswa. Pada kesempatan saat itu lah saya “menemukan” ruangan ini.

Hal pertama yang langsung menarik perhatian saya ketika memasuki ruangan ini adalah ukuran ruangnya. Jika diperhatikan, ruangan auditorium ini relatif kecil bila dibandingkan dengan auditorium yang berada di Indonesia. Begitu juga dengan kapasitasnya yang jauh lebih kecil dibandingkan auditorium di Indonesia. Dengan kapasitas hanya untuk 65 orang, sedangkan auditorium standar di Indonesia menyediakan kapasitas tempat duduk untuk 190-500 penonton (sumber: google.com). Perbandingan yang sangat jauh. Padahal bioskop tempat auditorium ini bernaung adalah bioskop pada umumnya. Definisi bioskop yang saya maksud adalah bioskop yang terbuka untuk masyarakat umum, bukan bioskop mini atau pun eksklusif yang ditujukan untuk kelompok kecil penonton dan menginginkan tingkat privasi maupun eksklusivitas lebih tinggi. Terlebih mengingat harga karcis bioskop yang hanya BYR 80.000 atau Rp 55.200, terlalu murah bila tujuan perancangan ukuran bioskop adalah eksklusivitas untuk penontonnya.

Dapat dikatakan bahwa kasus ini tidak hanya khusus untuk Platinum Cinema, tempat auditorium ini bernaung. Tetapi juga di bioskop lain di Belarus. Selain ke Platinum Cinema, saya juga pernah mencoba menonton di sebuah bioskop yang lebih konvensional di Belarus. Saya katakan lebih konvensional karena umur bangunannya yang lebih tua dan juga berdiri sendiri, berbeda dengan Platinum Cinema yang berada di dalam mall. Auditorium pada bioskop konvensional yang memiliki nama dalam huruf cyrilic tersebut (Kинотeaтр Paкeтa), hanya terdiri atas 3 baris dengan jumlah kursi tiap barisnya tidak mencapai 15 kursi. Sehingga dapat saya simpulkan bahwa kedua bioskop tersebut merepresentasikan bioskop yang ada di Belarus. Alasan saya memilih auditorium di Platinum Cinema adalah karena kesan yang lebih mendalam yang saya rasakan terhadap ruangan ini dibandingkan auditorium di Kинотeaтр Paкeтa, mungkin karena auditorium ini adalah teater pertama yang “mengagetkan” saya dengan ruangnya.

Selama 6 minggu di Belarus, saya tinggal berpindah-pindah di 5 host family. Project manager saya berkali-kali meminta maaf dan meminta saya agar tidak salah paham akan hal tersebut yang sesungguhnya disebabkan oleh sifat dasar masyarakat Belarus: tertutup. Masyarakat Belarus menjaga dengan sangat baik personal space mereka dengan sebisa mungkin membiarkan orang lain menginterupsi personal space mereka sesedikit mungkin. Fenomena ini menurut saya sangat terkait dengan desain auditorium di bioskop, entah disengaja maupun tidak. Perancangan auditorium mengikuti perilaku masyarakat yang cenderung tertutup dan defensif terhadap personal space. Solusi dari isu tersebut adalah dengan dibuatnya ruangan auditorium yang tidak terlalu besar sehingga meminimalisir interupsi personal space bagi tiap penonton.

Hal lain yang menarik bagi saya dari ruangan auditorium adalah pengalaman yang didapat penonton di dalamnya. Walaupun memiliki luas ukuran yang jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan auditorium di Indonesia, jarak pandang penonton dari kursi penonton dijaga untuk tetap nyaman untuk menonton. Bahkan dari kursi di baris terdepan pun, penonton tidak harus mendongak untuk melihat layar, karena jarak kursi baris terdepan dengan layar tidak terlalu dekat. Hal tersebut sangat berbeda dengan keadaan auditorium di Indonesia. Di Indonesia, tidak jarang auditorium memiliki kursi dengan baris terdepan yang cukup dekat dengan layar, hingga penonton harus mendongak untuk menonton. Dengan kata lain, memaksimalkan jumlah kursi penonton tanpa memerhatikan efektivitas ruang. Organisasi kursi seperti itu tidak hanya membuat tidak nyaman karena penonton harus mendongak, tetapi mata juga cepat lelah karena terlalu dekatnya objek layar dari mata. Hal tersebut lah mungkin yang berusaha dihindari oleh bioskop di Belarus, yaitu menjaga standar kenyamanan penonton.

Pada akhirnya, auditorium di Belarus meninggalkan kesan mendalam bagi saya, dalam konotasi positif tentunya, karena memberikan pengalaman ruang yang baru bagi saya. Saya merasa mendapat kesempatan untuk mengenal Belarus dan masyarakatnya lebih jauh melalui ruangan kecil ini. Sesuatu yang tentunya tidak saya harapkan pada awalnya.

Berita Terkait