Menyentuh Ombak di Tengah Hutan — Henderson Waves

15212041 | Rendy Setiawan

Singapura, siapa yang tidak kenal dengan kesuksesan negara tersebut dalam arsitektur? Marina Bay Sands? Singapore Flyer? Gardens by The BayUniversal Studios? Di luar semua itu masih banyak lagi karya arsitektur yang sukses menarik hati masyarakat domestik dan mancanegara. Seluruh dunia tidak bisa berhenti kagum dengan paduan harmonis bangunan, jembatan, dan lanskap dari Negeri Merlion ini. Namun selain bangunan, jembatan, dan lanskap yang megah dan terkenal tersebut, masih banyak karya-karya yang tersembunyi di tengah kawasan permukiman bahkan di tengah hutan. Salah satunya adalah Jembatan Henderson Waves ini.

Henderson Waves terletak di Henderson Road, jalanan yang terletak di antara bukit dan pepohonan rindang dan berjarak sekitar 1.4 km dari Vivocity, yang terletak di daerah selatan Singapura. Jembatan ini merupakan bagian dari rangkaian Southern Ridges, penghubung tiga taman nasional di Singapura, yaitu Taman Mount Faber, Taman Telok Belangah Hill, dan Taman Kent Ridge. Pada waktu itu, sekitar pertengahan Januari 2016, saya dan teman-teman berhasil mencapai lokasi Henderson Waves tersebut dengan menggunakan bus dari stasiun MRT Outram Park selama kira-kira 30 menit perjalanan. Ketika turun dari halte, kami disambut dengan tumpukkan anak tangga yang menjulang sampai 4 meter di atas posisi kami. Dan setelah 10 menit menaiki tangga dan berjalan menanjak, kami pun sampai di lokasi jembatan kayu yang sangat kami, terutama saya, nanti-nantikan.

“Wah, seperti ini ternyata…” Itulah perasaan yang pertama kali muncul ketika kami sampai di depan jembatan Henderson Waves tersebut. Saya yang memang sangat antusias dengan tempat ini langsung menginjakkan kaki ke atas material papan kayu balau berwarna coklat pudar tersebut. “Wahh…”

Pemandangan Kota dari Henderson Waves

Pemandangan Kota dari Henderson Waves

Itulah pemandangan yang kami lihat dari jembatan yang terletak 63.46 m di atas permukaan laut ini. Ya, karena Henderson Waves terletak di antara taman-taman dan perbukitan, suasana alam dan hutan di sini sangat kental, sehingga ketika disandingkan, akan seperti dua dunia yang berbeda.

Ambience

Secara keseluruhan, bentuk Hendorson Waves mengadopsi bentuk ombak yang dijadikan sebagai shelter dan tempat duduk bagi penggunanya. Tonjolan ombak tersebut terkesan bergerak bergantian ke atas dan ke bawah deck jembatan, sehingga di titik-titik yang tidak dilindungi shelter, pengunjung bisa melihat struktur jembatan dan pemandangan kota di sisi tersebut. Material yang digunakan di jembatan ini yaitu baja sebagai struktur utama, besi sebagai handrail, dan papan kayu balau sebagai finishing-nya. Ruang yang diciptakan dari perpaduan ketiga material ini saya rasa cukup berhasil karena membuat suasana sejuk, ditambah dengan suasana post-rain, atau pasca hujan waktu itu, saya merasakan ambience yang menenangkan di sini. Perpaduan warna monokromatik dari ketiga material tersebut menurut saya memegang peran yang sangat besar dalam membuat suasana yang menenangkan tadi.

Sebuah Gaya Hidup

Dan itu baru 10 meter dari tempat kita memasuki jembatan ini. Setelah saya menyadari bahwa bentangan jembatan ini masih jauh, saya langsung bergegas dari tempat duduk dan berjalan menyusuri sisa 264 meter tersebut untuk mencapai seberang. Selama saya berjalan, saya melihat bahwa ternyata masih ada beberapa orang yang juga menikmati ‘ombak’ tersebut. Ada yang duduk-duduk saja di bawah shelter, ada juga yang melakukan jogging sore. Hal ini juga yang membuat saya kagum, jembatan ini ternyata dibuat bukan hanya sekedar jembatan penyeberangan antar taman, tetapi juga dirancang sebagai fasilitas sekaligus stimulus bagi masyarakat untuk mau keluar rumah, sebuah gaya hidup.

Tentu saja, Standar

Kumpulan kursi kecil tempat beristirahat

Kumpulan kursi kecil tempat beristirahat

Sekitar 30 meter terakhir, saya menjumpai beberapa kursi-kursi kecil di sudut-sudut dan salah satu jalan keluar kecil menuju sebuah taman kecil yang cukup kosong. Kemungkinan kursi-kursi tersebut memang sengaja dibuat sebagai sarana istirahat para pelari sore dan orang-orang yang telah menyeberangi jembatan tersebut. Suasana  semakin sejuk ditemani pohon-pohon rindang yang menandakan bahwa saya sudah dekat dengan tujuan saya, titik ujung jembatan. Suasana pun menjadi semakin sejuk dengan awan senja dan pepohonan yang rindang, walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 18.32 di sana. Sampailah saya di ujung jembatan.

Ternyata, saya baru saja berjalan sejauh 274 meter dari taman Mount Faber menuju Telok Belangah. Di taman Telok Belangah tersebut, terdapat papan petunjuk dan deskripsi mengenai nama-nama taman dan jembatan yang merupakan rangkaian dari Southern Ridges ini. Setelah melihat-lihat dan membaca, saya pun menghampiri sebuah rumah kecil yang terlihat kosong di sudut sebelah timur. Di sana saya mendapati sebuah vending machine dan saya langsung membeli minuman di sana, selain karena haus, tapi karena harga minuman kaleng di sana lebih murah dibanding harga di minimarket yang saya dan teman-teman temui. (baca: 1 SGD / Rp10.000,00)

Kemudian sambil membawa minuman kaleng yang sudah saya minum sedikit, saya pun kembali ke tempat teman-teman saya duduk. Ternyata, ada satu hal lagi yang saya baru sadari saat perjalanan kembali. Tinggi railing yang tidak terlalu tinggi yang ramah bagi pengguna kursi roda, serta adanya kotak kaca darurat yang berisi APAR, walaupun seingat saya hanya ada di ujung-ujung jembatan. Hal ini sangat membuka mata saya, bahwa sebuah desain yang baik, selain membuat suasana yang nyaman, memfasilitasi aktifitas positif, juga universal design dan menjunjung tinggi keamanan dan keselamatan. Hal inilah yang menurut saya, membuat karya-karya arsitektur di Singapura sangat banyak mendapat apresiasi dari pengunjung di dunia.

Waktu menunjukkan pukul 19.15, kami sudah bersiap untuk mengunjungi tempat lain, tetapi kami dikejutkan dengan satu fitur tambahan dari Henderson Waves yang hanya ada pada malam hari, yaitu nyala lampu-lampu LED yang ditempel di bagian railing dan atap shelter baja. Dan suasana inilah yang mengingatkan bahwa perjalanan kami masih belum selesai.

 

pic3

Berita Terkait