Asramaku yang Tercinta

gogogogogo

Masa SMA merupakan satu kurun waktu yang sedikit unik jika dibandingkan dengan cerita kehidupan saya sebelum-sebelumnya. Pada saat SMA saya pertama kali mencoba merasakan suka duka kehidupan seorang anak asrama. Saya harus terbiasa dengan lingkungan baru, bersosialisasi dengan orang-orang baru, hidup jauh dari orang tua, dan merasakan perjuangan seorang anak asrama.

Asrama saya terdiri dari dua lantai, lantai bawah untuk siswa dengan tingkat kelas yang lebih rendah dari lantai atas. Dibagian tengah terdapat void, dengan tangga terdapat disalah satu sisi bangunan. Dilantai atas terdapat balkon yang langsung menghadap void. Susunan kamar berupa double loaded dengan tiap kamar diisi oleh 4 orang. Antar kamar yang berhadapan dipisahkan oleh koridor dengan kamar mandi terdapat di tiap ujung koridor. Terdapat halaman belakang yang cukup luas tempat kami menjemur pakaian.

Asrama saya bukanlah asrama yang mempunyai fasilitas yang baik. Bahkan bisa dibilang asrama saya kurang memenuhi standar sebagai tempat tinggal yang layak. Plafond yang sudah rusak hingga bocor, tangga yang tidak begitu stabil tiap dinaiki, hingga kamar mandi yang bahkan pintunya tidak bisa ditutup sehingga harus diganjal dengan handuk jika ingin menggunakannya.

Semua aspek fisik yang kurang baik itu bukannya menimbulkan kesan negatif kepada saya, akan tetapi meninggalkan sebuah kesan dan memori yang mungkin merupakan salah satu yang paling indah dari cerita hidup saya. Disanalah saya belajar bahwa keluarga tidaklah harus tercipta dari hubungan darah. Keluarga bisa tercipta saat kita merasakan penderitaan yang sama, menikmati kesenangan yang sama, bahkan menertawai lelucon yang sama.

Saya masih ingat bagaimana saya bersama teman teman saya bercanda gurau di balkon lantai 2 menggoda adik kelas yang lewat, bagaimana kami berbagi cerita kehidupan dari tempat tidur masing-masing, bagaimana saya dan teman-teman mengejek teman kami yang menelpon pacarnya dihalaman belakang asrama. Momen-momen tersebut teringat bukan hanya karena ada manusianya, tetapi karena terdapat ruang-ruang yang mewadahi terjadinya momen tersebut.

Bahkan ketika kami telah memasuki masa kuliah, saat berkumpul lagi dengan teman-teman asrama, cerita-cerita tentang kehidupan di asrama terasa tak habis-habisnya enak untuk didengar dan diceritakan kembali. Oh asramaku yang tercinta, disanalah kami dibina…

Berita Terkait