Arcasia Student Jamboree 2018

ARCASIA (Architects Regional Council ASIA) Student Jamboree merupakan sebuah acara yang diadakan tiap 2 tahun sekali dan ditujukan untuk mahasiswa arsitektur dari seluruh penjuru Asia untuk berkumpul, berdiskusi, dan berkolaborasi. ARCASIA sendiri merupakan bagian dari acara ACA (Asian Congress of Architects), konferensi yang ditujukan untuk para arsitek yang di tahun 2018 ini, diadakan di Jepang di bawah naungan JIA (Japan Institute of Architects).

Pada bulan September 2018 yang lalu, Program Studi Arsitektur ITB mengirimkan dua orang mahasiswanya untuk mengikuti acara ARCASIA Student Jamboree di Tokyo, Jepang, yaitu William Wibowo serta Fransiskus Asisi Dwinugroho. Mereka berdua lolos seleksi yang diadakan oleh IAI (Ikatan Arsitek Indonesia). Seleksi yang dilakukan merupakan seleksi berkas dengan mengumpulkan CV, portfolio, serta essay 500 kata dengan tema tertentu menggunakan Bahasa Inggris. Ada 20 mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk mengikuti rangkaian kegiatan di Jepang.
ARCASIA Student Jamboree 2018 diikuti oleh sekitar 200 peserta dari 21 negara Asia yang menjadi anggota ARCASIA. Selama kegiatan peserta dibagi ke dalam 10 tim (Tim A-J) dengan masing-masing tim dipecah menjadi dua tim kecil. Setiap tim (Tim A-J) mendapatkan topik yang berbeda-beda untuk didiskusikan selama rangkaian acara namun dengan konten dua buah isu yang berlawanan seperti isu “Growing VS Shrinking”, “Natural VS Artificial”, dan lain-lain. Kesepuluh tim tadi dibimbing oleh masing-masing seorang mentor berdasarkan topik yang diperoleh. Mentor tersebut yang akan membimbing para peserta dalam berdiskusi dan mendapatkan solusi terkait masalah tersebut. Tiap mentor juga didampingi oleh dua orang asisten untuk mempermudah pengawasan dan pelaksanaan kegiatan. Di hari akhir acara, akan ada presentasi final dari setiap kelompok di hadapan seluruh peserta dan seluruh mentor terkait hasil diskusi dari masing-masing kelompok.

Menurut William Wibowo, acara ARCASIA Student Jamboree 2018 sangat menarik dan berkesan karena ia mendapatkan sebuah pengalaman baru, mengenal dan mendapat banyak teman baru dari berbagai negara dengan keahliannya masing-masing, berdiskusi, bekerja, dan berkolaborasi dengan mereka. Ia dan Fansiskus Asisi Dwinugroho juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal dan mendapat ilmu dari berbagai arsitek hebat di Jepang, dilatih untuk berpikir terbuka, berdiskusi, berargumen, serta berani untuk menyampaikan hasil diskusi di depan umum.

Berita Terkait