Desain dan Pembangunan Masjid Jami Nurul Hasanah Aceh, Kota Palu, Sulawesi Tengah

Bencana gempa bumi melanda Lombok pada 5 Agustus 2018. Tidak lama berselang gempa, tsunami dan likuifaksi melanda Sulawesi Tengah pada 28 September 2018. Pemerintah propinsi dan masyarakat Aceh mampu mengumpulkan dana sumbangan untuk membangun kembali salah satu masjid yang rusak baik di Lombok maupun di Palu. Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko dipercaya untuk mengelola dana bantuan dalam bentuk desain dan pembangunan kedua masjid tersebut. Masjid Annur Aceh di Lombok Utara dibangun dengan konstruksi bambu karena potensi bambu yang besar di Lombok dan telah diresmikan pada tahun 2019. Sementara itu masjid di Palu berada di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga, menggunakan bahan kayu karena potensi kayu yang besar di Sulawesi Tengah. Masjid ini sekarang diberi nama Masjid Jami Nurul Hasanah Aceh, untuk selalu mengingatkan sumbangan masyarakat Aceh pada pembangunan masjid ini.

Pembangunan kembali Masjid Jami Nurul Hasanah Palu yang rusak ini diinisiasi oleh Gubernur Aceh yang juga alumni mahasiswa Magister Arsitektur ITB Angkatan 1995, Ir. Nova Iriansyah, MT. Desain dari masjid ini dilakukan oleh Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko, anggota KKTB ITB dengan dibantu oleh asisten arsitek Imam Prasetyo, ST., M.Ars., yang saat itu masih berstatus mahasiswa Magister Arsitektur ITB Alur Desain Angkatan 2017. Kebetulan Imam berasal dari Palu lulusan Universitas Tadulako.

Desain masjid ini terinspirasi oleh arsitektur tradisional Sulawesi Tengah dan Aceh dan menyatukannya dalam sebuah pola geometri arsitektur islam sebagai simbol persahabatan kedua provinsi. Struktur atap bentang lebar 20x20m diselesaikan dengan struktur lattice yaitu struktur yang terdiri dari elemen struktural rapat yang membentuk bidang-bidang persegi panjang atau jajaran genjang yang dikombinasikan dengan struktur bidang lipat. Struktur bentang lebar seperti ini didesain agar masjid tidak memiliki kolom yang dapat memotong shaf pada bagian tengahnya. Sebagian bidang atap miring ini ditopang oleh struktur pipa baja di tengah empat sisi yang menjadi bagian pintu masuk dan mihrab. Sebagian besar rangka atap yang lain disalurkan ke kolom beton bertulang yang sekaligus sebagai rangka dinding. Kolom ini dibuat tidak terlalu tinggi dan memiliki lipatan-lipatan dalam denahnya untuk ketahanan terhadap beban lateral atap.

Pelaksanaan pekerjaan pembangunan senilai 3,3 milyar rupiah juga diserahkan pada Andry Widyowijatnoko. Tim pembangunan masjid selanjutnya dibentuk dengan manajer lapangan Imam Prasetyo, ST., M.Ars. dan dibantu oleh anak-anak muda dari Palu: Ir. Rahmat Kosasi, ST., IPM, Eko S. Danaputra, ST., Manggala Idul S.Skom, Ir. Muhammad Rahmani ST., MT.

Pembangunan masjid ini memakan waktu hampir 21 bulan. 4 bulan diantaranya terdapat penundaan pekerjaan akibat perubahan administrasi keuangan. Lamanya pekerjaan juga karena penyiapan bahan kayu dengan jumlah yang sangat besar memakan waktu yang tidak sedikit. Kendala teknis terbesar adalah konstruksi atap yang didirikan dengan cara manual dengan hanya menggunakan katrol. Balok-balok struktur atap terbuat dari laminasi papan-papan dengan beban balok terberat mencapai lebih dari 1 ton dengan panjang 18m. Ukuran balok ini tebalnya 90mm dan tinggi 600mm. Balok ini dibuat dari papan dengan tebal 30mm dengan cara dilaminasi secara manual menggunakan lem dan mur-baut.

Pekerjaan atap yang serba manual ini memakan waktu hingga 11 bulan, dibantu oleh tukang-tukang lokal dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Sebagian besar dana sumbangan masyarakat Aceh untuk pembangunan masjid, dibelanjakan di Sulawesi Tengah atau setidaknya di Pulau Sulawesi, seperti untuk pembelian kayu, pembayaran tukang, tim pelaksana lapangan dan lain sebagainya. Hanya penutup atap dan pipa baja yang didatangkan dari Jakarta dan Surabaya.

Video Masjid Jami Nurul Hasanah Aceh, Kota Palu, Sulawesi Tengah dapat diakses pada tautan berikut https://drive.google.com/file/d/1aNoC9UQB-Gohaekn7wdi7h6vYe78cGvR/view?usp=sharing

Berita Terkait