Laporan Pengabdian Masyarakat ITB : Pasca Gempa Sulawesi Barat

Ketua Tim Shelter
Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko

Anggota Relawan
Imam Prasetyo, ST., M.Ars. (Alumni Magister AR ITB) Ir. Rahmat Kosasih
Bobby Andriyanto Fajar Manggala Idul
Moh. Alwiyansyah A. Aldi Prima Putra Muhammad Fadil

Tim Mahasiswa
M. Arya Wicaksono (15216057)
Abdul Azis (15217045)
M. Farhan Darsa (15218006)
M. Isa Tsaqif (15218002)

Latar Belakang

Dua gempa berkekuatan cukup besar mengguncang daerah Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat dalam 2 hari secara berturut-turut. Gempa pertama terjadi pada hari Kamis (14/1/2021) pukul 14.45 WITA dengan kekuatan M 5,9. Gempa dengan kekuatan lebih besar kembali terjadi keesokan harinya, yakni pada Jumat (15/1/2021) dini hari pukul 02.28 WITA. Kerusakan yang terjadi sangat besar yang menyebabkan kerusakan lebih dari 300 rumah tinggal dan korban jiwa lebih dari 27 orang. Gempa ini terjadi di tengah pandemi Covid-19 yang masih meningkat. Hal ini membuat penanganan bencana lebih menyulitkan.

Program

LPPM ITB melalui Sekretaris Bidang Pengabdian Masyarakat Denny Willy, Ph.D meminta saya untuk membantu korban pengungsi di sana tidak lama setelah berita korba gempa menyebar luas. Mengingat kondisi pandemi Covid-19, saya mengusulkan untuk memberdayakan relawan dari Palu yang telah terlatih dalam pembuatan shelter setelah gempa Palu tahun 2018 lalu. Pertimbangan lain, selain bisa cepat dan lebih murah, bahan bangunan juga bisa dimobilisasi dari Palu dengan jalan darat lebih kurang 9 jam perjalanan. Setelah usulan ini diterima oleh LPPM ITB, saya kemudian memobilisasi 7 relawan untuk membantu. Tanggal 21 Januari 2021, 5 relawan bisa dikirim ke lapangan dengan membawa peralatan ketukangan dan bahan bangunan shelter untuk 2 unit. Relawan yang lain membantu dalam pembelian bahan bangunan di Palu. Sistem bantuan seperti ini menjadi efektif, karena tim sudah bisa ke lapangan di hari ke tujuh setelah gempa dengan membawa bantuan berupa peralatan dan bahan bangunan untuk 2 unit shelter.

Gambar 1 Bahan bangunan yang akan dibawa ke Mamuju

Sementara itu tim dari ITB berangkat dari Bandung beranggotakan Dr. Muhammad Ihsan D.R.S.A.S. S.Sn.,M.Sn., dan Eljihadi Alfin tanggal 21 Januari 2021. Tugas utama dari tim ITB adalah membawa alat penjernih air dan menjadi tim Trauma Healing. Selain itu tim ini juga diminta mengkoordinasikan kerja tim shelter dari Palu dengan bantuan dari berbagai pihak lain. Dalam kerja penanganan bencana ini, ITB bekerjasama dengan Rumah Amal Salman, Unair, Unhas, BSMI, DT Peduli, ICCN dan BNPB serta beberapa lembaga lain.

Tim ini kemudian bertemu dengan tim shelter dari Palu dan membangun shelter pertama di Stadion Manakarra, Mamuju untuk dipakai sebagai tempat trauma healing bagi pengungsi. Dalam jangka panjang, shelter ini akan dipakai sebagai posko bagi BSMI.

Gambar 2 Shelter 1 LPPM ITB di Stadion Manakarra Mamuju untuk shelter trauma healing

Setelah selesai pembangunan shelter di Mamuju pada tanggal 24 Januari 2021, tim berangkat ke Tappalang untuk pembangunan shelter kedua.

Pemilihan lokasi di Posko Limbeng, Desa Takandeang, Kecamatan Tappalang dilakukan melalui rapat koordinasi tim di lapangan berdasarkan kebutuhan di lapangan dan skala prioritasnya. Shelter ini diperuntukkan sebagai lokasi trauma healing di dusun tersebut. Shelter ini selesai dibuat tanggal 27 Januari 2021.

Gambar 3 Shelter ke 2 di Tappalang untuk shelter trauma healing

Berdasarkan kontak dengan Rumah Amal Salman, program ini dilanjutkan untuk membangun 2 shelter sejenis lagi dengan pembiayaan dari RAS. Kerjasama LPPM ITB dan RAS dilanjutkan dengan membangun 2 shelter sejenis satu di tempat yang sama dan satu lagi di lokasi yang berbeda.

Pada tanggal 28 Januari 2021, LPPM ITB memberangkatkan lagi tim kedua untuk menggantikan tim pertama yang sudah pulang kembali ke Bandung. Tim ini memberangkatkan 2 dosen (Ardhana Riswarie dan Patriot Mukmin) dan 3 mahasiswa. Atas permintaan LPPM ITB, saya kemudian membuka kesempatan kepada mahasiswa untuk terjun di lapangan membantu warga yang terdampak gempa. Empat mahasiswa kemudian terseleksi dari beberapa peminat. Karena dana LPPM ITB terbatas untuk 3 mahasiswa, 1 mahasiswa bisa ikut berangkat dengan pembiayaan dari RAS.

Gambar 4 Shelter ke 3 yang dibangun tim hasil kerjasama RAS dan ITB

Tugas dari tim mahasiswa yang berangkat terdiri dari beberapa pekerjaan:

  1. Mahasiswa membuat dan membawa terpal dengan pola yang telah diberikan untuk menjadi shelter keluarga. Tugas ini dikerjakan perorangan. Dana yang dikeluarkan digantikan oleh dana shelter dari LPPM ITB.
  2. Mahasiswa membangun shelter keluarga untuk diberikan kepada pengungsi yang membutuhkan. Ada 4 shelter yang dibangun.
  3. Membantu program Trauma Healing oleh tim ITB.
  4. Mengawasi dan membantu pembangunan shelter oleh Tim Palu.
  5. Mengumpulkan data lapangan untuk laporan, termasuk data untuk perancangan kembali masjid yang hancur karena gempa.
Gambar 5 Tenda skala keluarga dengan rangka bambu sebagai tugas mahasiswa

Hingga saat ini, tim mahasiswa masih berada di lapangan membantu pembangunan shelter tunnel ke 4, dan shelter keluarga ke 4, pengumpulan data dan program trauma healing. Tim mahasiswa didampingi 2 dosen dari FSRD dan akan kembali ke Bandung tanggal 7 Februari 2021. Program RAS akan terus berlanjut karena pendanaan yang lebih baik yang akan dibantu oleh tim ini.

Beberapa berita terkait kegiatan ini:

Berita Terkait