Enter your keyword

Bunga Rampai makalah 2013-2018 AR6131 Arsitektur Kontemporer Dunia

Bunga Rampai makalah 2013-2018 AR6131 Arsitektur Kontemporer Dunia

Bunga Rampai makalah 2013-2018 AR6131 Arsitektur Kontemporer Dunia

Buku Bunga Rampai makalah 2013-2018 AR6131 Arsitektur Kontemporer Dunia ini menampilkan makalah mahasiswa peserta mata kuliah AR6131 Arsitektur Kontemporer Dunia yang dipilih dari kompilasi yang dikumpulkan dalam kurun waktu lima tahun selama masa kurikulum tahun 2013-2018. Arsitektur Kontemporer Dunia ini adalah mata kuliah pilihan di lingkungan Program Studi Magister Arsitektur, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Pendidikan (SAPPK) ITB, dan dikelola di bawah Kelompok Keahlian Sejarah Teori dan Kritik Arsitektur ITB. Struktur kuliah selalu terbagi dua bagian, yaitu kuliah yang bersifat substansial di paruh awal semester, dan presentasi bacaan dari buku yang selalu secara tematis dipilih dan dibahas setiap tahunnya.

Lewat materi yang dibahas pada para penulis ini mengekspresikan pandangan intelektualnya mengenai berbagai fenomena arsitekur masa kini. Ragam bahasan yang dibawakan berkisar pada bahasan mengenai karya arsitektur, kiprah arsitek, wacana dan teori, atau fenomena sosio-kultural arsitektur. Para penulis yang berkontribusi dalam terbitan ini adalah Bunga Ravenska Aranda, Feni Kurniati, Noveryna Dwika Reztrie, Dwi Risky Febrian Dhini, Erwita Nurika, Dea Dyma Putri, Nita Dwi Estika, dan Heince Andre Maahury. Kedelapan karya tulis mereka ini mewakili keragaman pandangan kritis dalam membahas fenomena kekinian dalam arsitektur masa kini. Beberapa darinya menekankan pada konsep atau perspektif mengenai arsitektur, beberapa membahas kasus dan lainnya membahas sosok arsitektur. Dari pembahasan kedelapan penulis tersebut, setidaknya didapat benang merah yang menandai kekinian dari arsitektur pada bahasan mereka. Pertama, hampir seluruh bahawan menggarisbawahi kompleksitas peran yang terlibat di dalam sebuah karya atau kompleksitas sistem yang meliputi kerja kreatif arsitektur termasuk situasi sosial politik. Kedua, konteks lokal tetap menjadi penting sekalipun tidak selalu didasari motif resistensi terhadap modernitas. Ketiga, dimensi daur ulang, baik itu obyek, konsep, maupun metode juga cukup mengemuka.

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.