Enter your keyword

Mempertimbangkan INDONESIA dalam Praktik Desain Arsitektur Masa Kini

Mempertimbangkan INDONESIA dalam Praktik Desain Arsitektur Masa Kini

Talkshow bersama Raul Renanda dan Realrich Sjarief

Jumat, 8 April 2016 di Galeri Arsitektur ITB

 

“Such a redesign would entail a rethinking of public space for Indonesia, without reduction to any essentialized version of Indonesian unity or history. The nation was invented a mere 60 years ago and remain an unfinished project.” (Dovey – with Permanasari, 2003)

Acara talkshow ini dibuat untuk melihat bagaimana “Indonesia” bermakna dari perspektif arsitek praktisi. Kata “Indonesia” sebenarnya baru dikenal di akhir abad ke-19 untuk menandai sebuah kawasan kepulauan di seberang daratan India. Ketika kata ini kemudian menjadi nama dari sebuah negara yang diproklamasikan pada tahun 1945, sebuah proyek besar membangun suatu bangsa sejatinya baru dimulai. Dibahas pula sampai di mana perjalanannya saat ini, dan adakah strategi-strategi baru untuk mengantisipasi hubungan antarbangsa yang semakin tanpa batas. Yang ingin cicari adalah bagaiman berbagai disiplin, termasuk arsitektur, memaknai proyek besar yang bertajuk Indonesia ini.

Moderator Indah Widiastuti memulai acara dengan menyebut bahwa sebenarnya “Indonesia” problematis dalam dunia arsitektur. Terjadi perdebatan apakah yang digunakan adalah konsep Arsitektur Nusantara atau Arsitektur Indonesia? Beberapa cendekiawan arsitektur memilih istilah “Arsitektur Nusantara” dengan alasan untuk bisa merangkum masa lalu perjalanan masyarakat di wilayah ini pada masa lalu, dan akan lebih banyak berbicara tentang arsitektur tradisional. Cendekiawan lain berpendapat, perjalanan Arsitektur Indonesia sesungguhnya baru sejak tahun 1945 (menurut kita) atau 1949 (menurut internasional), dan ini akan lebih banyak membahas tentang arsitektur modern di Indonesia. Artinya, konsep “Indonesia” ternyata mampu menghela produksi pengetahuan di dunia akademis. Tetapi bagaimana konsep “Indonesia” dimaknai oleh kalangan arsitek praktisi?

Realrich Sjarief membuka diskusi dengan memaparkan tentang konteks praktik arsitek Indonesia, terutama pengalamannya dalam menjalin relasi dengan klien untuk menjaga kesinambungan profesi. Realrich memaparkan bahwa siklus praktik arsitek adalah proses belajar hingga arsitek akhirnya meninggal. Beberapa arsitek kemudian membuat firma, yang bertugas menjaga kestabilan reputasi yg dibangun sejak awal oleh arsitek. Di sinilah perlunya “mastering” dalam profesi arsitek, yang didapatkan melalui rasa tanggung jawab untuk membuat yang terbaik, jujur, dan bukan sekadar make-up atau gimmick. Jika arsitek mampu membuat klien bahagia, itulah pencapaian terbesar. Pertumbuhan bukan karena perubahan semata, tetapi karena kerja bersama.

Raul Renanda mencoba melihat realitas bangsa Indonesia dalam konteks praktik arsitektur, terutama dalam relasi arsitek-klien. Praktik arsitek terimbas oleh kondisi bangsa yang sedang bingung dan mudah ribut. Acapkali budaya munafik pun hadir dalam praktik arsitektur. Namun demikian, karakter Indonesia tidak dilihat dalam kemasan, tetapi pada karakter. Raul mencontohkan, meskipun dirinya menggunakan busana buatan luar negeri, tetapi dirinya tetap Indonesia. Raul menyarankan agar para arsitek muda bisa menjadi dirinya sendiri namun tetap diterima oleh masyarakat. Ketika semua di dunia sudah cenderung sama, maka kebutuhan akan keunikan dan identitias akan muncul. Ini menjadi potensi orang Indonesia, namun cenderung diabaikan. Ibaratnya, Indonesia saat ini seperti Cinderella yang memilih terus di dapur daripada keluar rumah dan menjadi putri.

Acara ini bisa membuka diskursus tentang apa itu Arsitektur Indonesia atau Arsitek Indonesia. Melalui diskusi antara praktisi dan akademisi seperti ini, diharapkan rumusan tentang Indonesia bisa lebih bersifat epistimologis daripada dogmatis seperti yang sudah-sudah. Pengetahuan tentang Indonesia, paling tidak dari sisi arsitektur atau perspektif arsitek, menjadi perlu untuk bisa membacanya dengan lebih jelas. (Agus Ekomadyo)

Materi Presentasi: Realrich – Indonesia Challenge (web):

Realraul u Website 02Realraul u Website 04 Realraul u Website 03 Realraul u Website 05

Powered by TranslatePress »